20 Agustus 2009

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

Met puasa semuanya, para sobat blogger-blogger
mohon dimaafkan segala kesalahan/khilaf ya.
baik yang disengaja ataupun tidak !

Jakarta, 7:45 WIB, 20 Agustus 2009

26 Juni 2009

Jum'at Seru !

Pagi ini, sebelum saya beranjak pergi, abnyak lalu lalang ibu ibu sedang sibuk-sibuknya : mengambil raport anak nya, saya kini tengah membayangkan, betapa repotnya Para pemadam kebakaran di setiap bulan Juni, memadamkan setipa rumah yang anaknya terdapat angka merah di raportnya : Kebakaraaaan, teriak Pak RT.

Jam 9.45, saya bergegas naik 615, Tujuan Prapanca,
setelah dari sana, saya naik Kopaja 19, blok M. Numpang Jum'atan di Basmen Ambhara Hotel.

setelah selesai, langsung naik mobil rute kampung Melayu, tujuan Dinas Pemuda dan Olahraga, minta rekomendasi provinsi.

Setelah itu, naik M 01 rute Melayu-Senen. Saya turun di Perpustakaan nasional, mengurus ijin ISBN.
Setelah itu, naim M01 lagi, ke senen.
Diterminal senen, saya numpang Ashar, dipasarnya, dilantai dua. baru sekali itu saya liat aktifitas pedagang sayuran dipasar yang sedang membuat dagangannya, merapihkan sawi, kacang panjang...Hmmmm, jadi inget di warteg.*loh*
-hahaha, tulisan kok garing gini ya, biarin dah gak ada yang baca ini...
abis itu cabut dech, P20 !
the-en

25 Juni 2009

Muter sore-sore

Hari ini saya baru menyadari
melakukan pekerjaan dengan sepenuh hati, ternyata memberi dampak positif pada jiwa kita.
Segalanya berjalan dengan ikhlas, memberikan segala apa yang kita punya, yang terbaik.
itu merupakan wujud pengabdian hidup,
esok, lebih giat. bukan tak mungkin buku sejarah dua tiga tahun lagi, nama kita yang terulas. Insya Allah

-menulis, tanpa inspirasi-

24 Juni 2009

Morning of the World

Pagi buta saya berangkat ke Gatot Subroto, sekitar jam 9.00 (kau bilang pagi buta anak muda?)
ternyata di sana (baca: Dinas Pendidikan DKI) ada worshop gtu, dan setelah cari informasi ternyata dibuka juga untuk umum gak pake nomor peserta jg boleh masuk), tapi saya harus bertemu Bu Sri dulu di lt.4, dan dia sedang ada seminar juga diluar, saya tunggu, 10,42 an baru dateng, zes..zes..ses
selesai disana, saya buru buru turun, eh workshopnya dah doa penutup...*belon rezeki, kata tukang parkir sok baik-baikin*
hah....
segitu dulu hari ini, maklum, lg diet ketat..*APA HUBUNGANNYA?*

23 Juni 2009

Hari melelahkan

belum nulis otak saya sudah lelah,
belum tergores, pikiran saya sudah terbelah.
Tapi..ingat !
katanya kau ingin jadi pahlawan,
katanya namamu ingin tercantum di buku Sejarah kelas 4SD,
katanya....katanya...dan katanya !

pagi, 9.10 saya berangakat dengan kepala kantor menuju Gatot Subroto, Dinas Pendidikan DKI Jakarta, mengendarai Sepeda+motor, satu tujuan, Ibu Sri, lantai 4

ta-da !,
singkat cerita, setelah keperluan selesai, kita pisah. saya menuju Blok M, kepala kantor terbang ke pondok labu. saya naik P66, blok M.
azan dzuhur memaksa saya singgah di hotel sebrang blok M itu, cuman numpang solat di basmen nya, abis itu naik Kopaja 19, walikota.
di wali, makan dulu deh, seperti biasa, saya di rumah makan warteg, si tukang parkir di rumah makan padang. Akh..kebiasaaaan !

di pelayanan, sebelah kanan lift, ada DUA ONDEL ONDEL...LUCUCCCCUCU..CHU

bye......*ngantuk*

22 Juni 2009

Jakarta oh Jakarta

Pagi ini saya bergegas terburu-buru, seperti biasanya. Berlalu meninggalkan rumah diiringi cibiran anak ayam tetangga, seolah ia ingin berteriak :" aku yang selalu menang, awan". begitu kira-kira.

Saya ingat, ini tanggal 22 Juni, ultah kota Jakarta ke 482. Hmm...apa yang berbeda ya, kejutan kah?

meninggalkan kamar sendirian ternyata berat juga, saban hari saya selalu mencari cara agar tiga menit keluar kamar, rasa kangen dan rindu itu tidak muncul. Bukan apa-apa, ini musim hujan, kamar saya masih terkena cipratan air hujan disebelah baratnya, Mora (boneka anjing) saya pasti merana. sendirian tanpa teman.

Hari ini saya memakai sepatu biasa, celanabiasa, dan kemeja biasa, tapi ada yang tak biasa ! apakah itu ?
ya, dibawah kaos kaki saya, tercelip uang satujutarupiah, kiri dan kanan. hal yang tak mungkin saya ulangi diesok harinya, apalagi bertepatan dengan ulangtahun kota jakarta.
saya hendak membayar retribusi pembuatan IMB, di kantor walikota Jakarta Selatan. Dalam draft catatan saya ada satu nama saja, tertulis jelas di kontak telepon selular : Artam P2B.
ruangan berlantai lantai itu selalu membuat saya berpikir kebelakang terus, kejadian kejadian yang membuat saya kadang tersenyum sendiri, satu setengah tahun saya berkutat di tempat itu, dan hampir semua lantai familiar dengan wajah saya.*agak gimana gtu*
seperti kejadian di lantai 9 itu, ketika saya menunggu Pa Ibnu, untuk konsultasi dengan Kepala Seksi Dinas pengendalian Perencanaan, bersama Pa Heru saat itu. wel...ternyata Pa Ibnu hari itu sedang ada takjiah diluar, ada staff yang berpulang, dan ia ziarah pagi itu juga. saya dipaksanya menunggu.
ketika saya menunggu,
Orang asing: Pa, bisa saya ketemu Pa Isa?, beliau hari ini masuk kan pa.
Pa Haji : keperluannya apa bapak .
Orang asing : kami sudah janjian dengan beliau pagi ini..(saya menyimak di ruang tunggu, sebelah ruangan pa Isa, lantai 9, selurus dengan pintu masuknya)
Pa Haji : Janjian pagi ?
Orang asing : iya pa.
Pak Haji : Namanya pak Isa, biar dia berangkat Pagi, siang, shubuh-subuh, tetep aja datengnya Isa.
Orang asing : $@%$@
suasana ruang tamu....riuuuh, diiringi kepulan racun tembakau.*saya terpaksa disana*

itu kejadian beberapa pekan lalu, tapi tiap hari selalu saja ada yang berbeda kawan !
saya berangkat mengendarai angkutan umum 611 ke arah blok M, tapi tujuan saya Bulungan, SMA 70, ada sedikit keperluan disana.
setelah dari sana, saya kembali lagi dimana saya turun tadi, kolam renang bulungan itu, menumpang angkutan Depok, ke terminal Blok M.
sampai terminal, saya menuju jembatan penyembrangan, naik kopaja 19 rute Cilandak, arah Prapanca raya, dimana bercokol disana kantor walikota Jakarta Selatan.
saya ingat, disana orang2 sering mengolok -olok saya dengan bahasa hidup mereka.
Misal : Ketika saya tersesat di petak bertitel " warung tegal", bersamaan itu pula seorang tukang parkir, katanya ia bilang tersesat di "rumah makan padang".
dan ketika saya menggerutu ketika pulsa habis disaat saat terpenting, seorang pengamen jalanan dengan santainya mengutak ngatik hape 3G nya..." apa kata dunia?"

Fu!h....
ternyata, saya sadar, rumah kdua ini akan saya jadikan tempat saya belajar menulis, saya akan menulis disini setiap hari...."setengah janji"

singkat cerita,
setelah membayar uang dua juta rupiah tersebut, saya pulang. ternyata apa yang sudah direncanakan sejak awal tidak berjalan dengan semestinya, ada berkas yang kurang dalam permohonan IMB tersebut, sertifikat tanah belum di legalisir notaris. Hmmm
sesampainya saya di terminal terakhir, saya langsung meluncur ke Notaris dan PPAT daerah Pondok Pinang, depan masjid Jami.
ternyata lumayan murah, satu set hanya 25 ribu, saya buat dua set..*meniru iklan yakult*
pulang, mampir ke tempat adik, Fajar Senjaya n Mom.....nyore disana, menjelang maghrib cabut dech....
sampe deech kerumah...


ada yang lupa, tadi di wali, banyak taman taman dadakan gtu, banyak orang berkebaya......Hmm...teduh deh liatnya, warna warni bunga, mengingatkan saya pada perempatan jalan di ragunan itu, tempat jual bunga dan serba serbi lanskap.

07 April 2009

Depok di Ujung Senja

............Tadi Pagi saya mengadakan perjalanan ke Kota Depok. My First track. Ada berkas yang mau diambil disana. Einvest Institute. Alahmdulilah sampe juga jam setengan dua-an, sempet nyasar2 ke pelosok Citayem gtu Ugh !, sampe stasiunnya lagi.. jauuh dari Ibukota.
............Sebelumnya ke Pondok labu dulu. ada urusan juga disana. *banyak urusan nya ya, sok sibuk nih orang..eehe*Eh, pulang terjebak ujan, gitu dech. Tiap bawa payung gak ujan, (berat2in tentengan), eh pas gak bawa, seharian tuh ujan nongkrongin trus. Sedia payung sebelum ngojek nih...hehe....*perasaan tadi liat berita ramalan cuaca dech, jiaaaa..korban iklan lagi*
Hmm, hari yang aneh.
Suported by : Awan_cLIcK3rz bLog

06 April 2009

Gengsi Sang Gelandangan

..........Suatu ketika saya sedang berada di sebuah percetakan dibilangan Kota-Jakarta Pusat. Karena program komputer di tempat langganan kebetulan gak ada freehand nya, saya langsung nyebrang ke percetakan sebelah untuk numpang ngeprint. Nah pas ngeprint itulah hujan pun turun dan terpaksa saya tertahan di ujung sebrang itu. Berhadap-hadapan dengan tempat langganan.
.........Iseng-iseng, laper lagi, belilah roti di warung sebelah percetakannya, 2 biji seribu rupiah.
Nah pas makan roti itu melintas ibu-ibu (baca: pengemis) sambil menjulurkan tangan saktinya dengan sedikit jampi-jampi.
Karena saya tergolong orang yang selalu dapat informasi terkini, baik lewat media cetak maupun Internet; yang menyebutkan bahwa ada larangan untuk memberikan apapun pada gepeng(gelandangan dan pengemis) dari dinas binsos DKI Jakarta.Tujuannya mungkin agar komunitas mereka berkurang, atau Pelajaran Moral di Sekolah-sekolah Dasar memang sudah dihapus !
.........Nah, dalam kebimbangan itu, apa saya harus bersikukuh untuk ikuti aturan negara, atau aturan nurani. Keputusan harus diambil. Indonesia melilih....
Pemuda : *sambil mikir* seandainya saya diposisi dia, apa yang kita rasakan pasti pedih, pedih dan pedih, diapun pasti tak mau seperti wujud dia sekarang....dalam hati bermonolog.
Tunawisma : Dek, ........(sambil baca mantra tak karuan), moga aja bukan pengubah manusia jadi kodok, atau ridikulus makan kakus itu...
Pemuda: Nih bu, saya kebetulan cuman bisa ngasih ini, (sambil menyerahkan roti yang belum sempat ternoda)
Tunawisma: Duitnya aja Dech, bisa gak?
Pemuda: *%$#!#$%*
Pelajaran Moral Nomor keberapa ya situasi beginian.....
The Real
Awan D'travELogia

03 April 2009

Prologia


….......Meski tergolong baru mengenal dunia tulis-menulis, baik mengikuti sebuah milis maupun hilir mudik di perkampungan blogger. Kutipan seorang sastrawan Pramoedya Ananta Toer diatas, sudah mewakili apa yang saya butuhkan sebagai wadah penjernihan pikiran. Barangkali bisa bermanfaat dilain masa, atau sekedar penginspirasi orang-orang yang hidup ditengah kekuasaan pesimistif. Kini saya ingin lebih bebas menuangkannya disini.

….......Tak banyak orang bisa menulis, menulis yang sebenar-benarnya menulis;sesuai kaidah, sesuai aturan. Namun, yang selalu saya bilang kawan, proses akan selalu dan selalu memberikan kita kesempatan. Jika kita mau mencoba, semua serasa tinggal 50 % nya saja kita lakukan. Sisanya sudah kita lalui dengan mengatakan saya akan berusaha mencobanya. Yang saya perlukan, kini tinggal membulatkan tekad, meyakini mimpi dan mencernanya dalam kehdupan nyata. Buku harus menjadi sahabat saya sekarang, dulu begitu musuh, ketika menjelang ujian nasional baru kita melakukan negosiasi amatir; berharap dia menghantui dan menari-nari dikoridor kelas. Itu dulu. Pena harus selalu dekat disebelah saya, kemanapun pergi. Sebab kita tak akan pernah menebak kapan Inspirasi menulis itu menyeruak. Malah, saya mendengar di infotainment: Seorang Dik Doank bisa membuat satu lagu dalam 5 menit di kamar mandi. Hey, why u serious ?

….......Kecenderungan menuangkan pikiran dalam sebuah goresan yang ringan terkadang bisa membunuh rasa eskapis dan bahkan skziofrenia saya. Meski tak melulu soal halusianis, saya bisa mengosongkan pikiran alias B.E.N.G.O.N.G sampai berjam-jam lamanya. Jika sebuah Subway berangkat dari Tokyo ke Jepang pulang pergi. Saya bisa dipastikan masih melongo disana. Persis ketika peluit petugas meniupnya pertama kali. Hingga tiupan yang kelima. Benarkan, saya tak benar-benar pandai menulis, ini yang kusebut tadi : P.R.O.S.E.S !

….......Satu lagi, ada seorang. Eh seorang apa sesetan ya. Iya, ini kisah setan yang hendak jadi Pahlawan. Singkat cerita, setelah dia berguru pada seorang les privat mandiri; untuk menjadi pahlawan tentunya. Parahnya, Indonesia lah yang jadi target operasinya, setelah melakukan survey dibeberapa negara dan ternyata sudah kelebihan pahlawan. Indonesiapun sebenarnya sudah berlebih; sebut saja berapa banyak pahlawan revolusi kita, pahlawan imajinasi kita, dan juga pahlawan kesiangan lainnya. Apakah si syetan terkutuk ini mau jadi pahlawan kemalaman: maling dong.
….......Singkat cerita lagi, belum sampai si setan ini bertempur dengan penjajah, untuk jadi pahlawan. Belum berdarah-darah seperti yang diharapaknya dan juga sesuai penjelasan guru privatnya. Pahlawan itu rela mati demi segalanya. Ia mudah saja menemukan dimana itu Indonesia. Sesuai petuah gurunya: kalau kamu melihat dijalan yang penuh orang demo setiap hari dengan segala tuntutan itu indonesia. Kalau bapak setan melihat ratusan hektar hutan terbakar, ratusan desa dilanda banjir, tidak salah lagi. Dan sebagainya. Namun, apa yang terjadi diluar perkiraan si setan, dia belum sempat menunjukan kebolehannya menjadi aktor dan pahlawan, dia sudah disung-usung dan digadang keliling kota. Ternyata mereka sudah lama membutuhkan setan. Entah bagaimana ceritanya.

….......Di akhir cerita, setan itu benar-benar menjadi pahlawan, setelah berdebat sengit, apakah ia menjadi pahlawan bagi manusia atau bagi kaumnya sendiri. Setan yang akhirnya harus mati di tangan kaumnya setelah dituduh berkhianat saat mempertahankan kejujurannya ingin menjadi pahlawan manusia, manusia Indonesia.Kisah dari seorang sastrawan: Putu Wijaya.
Prologia copypaste in OpenOffice.org
Suported by : Awan_cLIcK3rz bLog